Gina Carano Tak Hanya Inginkan Film Aksi

Saat melihat Gina Carano memukuli Channing Tatum dan Michael Fassbender sampai babak belur dalam preview film Haywire (2012), tidak ada yang ragu bahwa wanita jagoan ini memang punya kemampuan bertarung yang hebat. Saat Hollywood sepertinya hanya mau memajang aktris cantik tanpa latar belakang sebagai petarung profesional dalam film laga, Carano pun hadir sebagai alternatif yang menyegarkan.

PENEROKA - Saat melihat Gina Carano memukuli Channing Tatum dan Michael Fassbender sampai babak belur dalam preview film Haywire (2012), tidak ada yang ragu bahwa wanita jagoan ini memang punya kemampuan bertarung yang hebat. Saat Hollywood sepertinya hanya mau memajang aktris cantik tanpa latar belakang sebagai petarung profesional dalam film laga, Carano pun hadir sebagai alternatif yang menyegarkan. Tak heran, Steven Soderbergh pun cukup percaya diri untuk menjadikan mantan petarung mixed martial arts (MMA) ini sebagai pemeran utama dalam filmnya.

Seperti yang sudah diduga, sewaktu kecil, Carano memang sudah menunjukkan kecenderungan perilaku yang tidak seperti anak-anak perempuan pada umumnya. “Saya pikir saya selalu merupakan anak laki-laki yang tidak dimiliki ayah saya. Saya punya dua saudara perempuan yang kurus dan cantik, jadi saya selalu jadi tipe anak tengah yang kasar,” ungkapnya.

Sewaktu masih remaja, Carano adalah sosok yang penyendiri. Karena sifatnya yang tomboy, ia pun jadi sering berkelahi dan terlibat dalam perkelahian jalanan. Jalan hidupnya mulai berubah saat Carano berpacaran dengan seorang pria yang mempelajari Muay Thai. “Saya pernah pacaran dengan seseorang yang menyadari bahwa gaya hidup saya buruk. Dia bergabung dengan Master Toddy’s Muay Thai di Las Vegas dan selalu ingin agar saya masuk dan melihatnya berlatih,” katanya. Selama mengamati pacarnya berlatih, secara perlahan Carano melihat perilakunya berubah setelah menekuni Muay Thai, dan hal ini pula yang akhirnya meyakinkannya untuk bergabung. “Saya melihat transformasi besar-besaran pada seseorang yang saat itu dekat dengan saya, jadi akhirnya saya bergabung dan jadi benar-benar kecanduan. Saya benar-benar melibatkan diri saya dalam hal itu.”

Carano pertama kali menyadari bahwa Muay Thai adalah passion-nya saat ia berumur 21 tahun. “Saya sangat menyukai Muay Thai. Muay Thai jelas adalah cinta pertama saya. Saya tahu ini sudah semakin populer, tapi saya memulainya ketika itu belum seterkenal sekarang,” katanya mengingat. “Saya sudah pernah ke Thailand beberapa kali, dan itu adalah satu-satunya hal yang membuat saya ingin bangun dan hidup, hidup untuk diri saya sendiri, bukan untuk orang lain.

Melalui awal keterlibatannya dengan Muay Thai, hal ini jugalah yang kemudian memberi jalan pada Carano untuk masuk dalam dunia mixed martial arts yang belakangan melejitkan namanya. Karena MMA memadukan berbagai cara bertarung dalam kompetisinya, Carano pun kemudian meningkatkan kemampuannya dengan belajar banyak jenis bela diri yang lain. “Hal ini mengantarkan saya pada kesempatan untuk masuk dalam dunia mixed martial arts, dan kemudian saya memulai latihan jiu jitsu. Dan kemudian saya mulai mencoba gulat dan tinju dan mencoba untuk menyatukan itu semua, karena semuanya adalah sesuatu yang sangat fantastis,” katanya.

Sadar bahwa MMA adalah kekuatan utamanya, Carano pun tidak akan menolak apabila saat ini ia hanya akan diajak untuk kembali bermain dalam film aksi. ”Saya benar-benar ingin untuk membuat lebih banyak film aksi, karena itu adalah apa yang bisa saya tawarkan pada saat ini, dan saya tahu itu. Karena itulah saya awalnya mendapat pekerjaan ini, dan saya menyukai itu, karena melakukan kegiatan fisik adalah sesuatu yang selalu saya suka,” katanya. Tapi, Carano sendiri mengakui bahwa meski sekarang ia hanya dapat unjuk gigi melalui adegan baku hantam, sebenarnya secara umum ia tidak terlalu menyukai film aksi.

“Saya dibesarkan dengan menonton Anne of Green Gables dan Pride and Prejudice,” kata Carano. “Saya tidak sering nonton film aksi. Saya tahu itu kedengarannya aneh karena saya anak tomboy, tapi saya pikir saya menyeimbangkan diri seperti itu dengan menonton film-film tersebut,” katanya. Karena hal itu pula, Carano tidak ingin membatasi dirinya hanya dalam satu genre film. Kalau diberi kesempatan, ia pun tidak keberatan kalau diminta untuk bermain dalam film komedi atau percintaan. “Saya selalu ingin belajar untuk mengespresikan soal kisah percintaan dan komedi. Ini seperti musik, selama Anda bisa merasakannya, itulah apa yang saya suka, dan saya ingin ambil bagian dalam hal itu.”

Foto cover: Gina Carano
Source: moviespad.com

Penulis: SHINTA SETIAWAN

 

Dunia Imajinasi Dr. Seuss dalam The Lorax

Tidak semua cerita anak-anak hanya mengisahkan tentang hal-hal yang sederhana. Beberapa buku bahkan mengangkat topik-topik serius seperti bahaya industrialisasi dan eksploitasi terhadap alam. Film animasi Dr. Seuss’ The Lorax (2012) yang akan dirilis sebulan lagi, dibuat berdasarkan buku cerita yang mengisahkan sebuah dunia di mana pohon sudah tidak lagi ada. Bagaimana rasanya hidup di dunia yang terbuat dari barang-barang artifisial?