Mark Andrews dan Kisah Putri Merida

Bila menonton film Pixar, penonton tentu punya ekspektasi yang cukup tinggi. Studio animasi yang didirikan tahun 1986 ini memang sering kali menghadirkan film-film animasi dengan kualitas superior. Karena itu, film terbaru Pixar yang akan keluar bulan ini, Brave (2012), tentu juga akan disambut dengan antusiasme yang cukup besar dari para penggemar film. Apalagi, ini adalah film pertama Pixar yang menampilkan karakter utama seorang wanita, Putri Merida. Lalu bagaimana sosok Merida dalam konsep Mark Andrews, co-director dari film ini?

PENEROKA - Bila menonton sebuah film Pixar, penonton tentu punya ekspektasi yang cukup tinggi. Studio animasi yang didirikan tahun 1986 ini memang sering kali menghadirkan film-film animasi dengan kualitas superior. Apalagi, Pixar sudah mengeluarkan film-film animasi yang sangat dicintai penonton seperti Toy Story (1995), Ratatouille (2007), Finding Nemo (2003), ataupun WALL-E (2008). Oleh karena itu, film terbaru Pixar yang akan keluar bulan ini, Brave (2012), tentu juga akan disambut dengan antusiasme yang cukup besar dari para penggemar film. Apalagi, ini adalah film pertama Pixar yang menampilkan karakter utama seorang wanita.

Memang, sejak pertama kali didirikan, Pixar belum pernah menampilkan sosok seorang wanita sebagai tokoh utamanya. Namun, hal itu berubah setelah Brenda Chapman mengajukan sebuah cerita yang diinspirasi dari hubungannya dengan putrinya, dan juga tentang kecintaannya pada Skotlandia. Chapman sendiri merupakan seorang veteran di Pixar dan pernah menyutradarai film animasi The Prince of Egypt (1998).

Disney pertama kali mengumkan proyek Brave di tahun 2008. Saat itu, proyek ini masih berjudul The Bear and the Bow. Sebelum diisi suaranya oleh para aktor dan aktris yang ada sekarang, The Bear and the Bow dulunya sempat melibatkan Reese Witherspoon sebagai salah satu pengisi suaranya. Tapi, selama beberapa tahun, proyek ini terus mengalami pengembangan sampai akhirnya kini suara Merida diisi oleh Kelly Macdonald yang memang merupakan aktris asli Skotlandia.

Sayangnya, Chapman tidak terlibat sampai proyek ini selesai. Selepas hengkangnya Chapman dari proyek Brave, Mark Andrews yang sama sekali tidak terlibat sejak awal maju dan menjadi co-director dari film ini. Meski tidak tahu terlalu banyak detail tentang Brave, Andrews justru senang karena ia dapat melihat proyek ini dengan lebih obyektif. Posisi sebagai co-director dari film ini juga tidak dilihatnya sebagai sebuah beban karena ia tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Andrews yang sudah menjadi bagian dari departemen cerita di Pixar selama 12 tahun merasa bahwa dengan iklim kerja di perusahaannya, ia tidak perlu tampil sebagai sosok yang menyolok.

Apa yang menjadi sumbangan terbesar Andrews dalam proyek ini menurutnya ada di segi cerita. Karena telah mengalami banyak perubahan dalam masa pengembangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun, Andrews merasa bahwa Brave perlu memusatkan kembali fokusnya dan kembali pada akar cerita yang paling penting.

“Jadi ketika saya bergabung, saya melihatnya dan berkata, ‘Oke, saya hanya perlu untuk mengembalikan ini pada bagian dasar tentang kisah siapakah ini? Ini adalah kisah tentang Merida. Mari kembali ke awal dengan Merida dan kita singkirkan yang lain. Apa yang harus ia pelajari? Bagaimana deskripsi karakternya? Bagaimana ia akan melalui kisah ini? Siapakah karakter-karakter yang ada di sekitarnya? Apakah kelemahan terbesarnya? Ya, ini tentu saja ibunya, ‘kan? Tapi kenapa?’,” kata Andrews.

“Saya harus mengambil elemen-elemen yang telah mereka miliki ini, tapi juga harus memfokuskannya dan membersihkan banyak detail-detail yang tidak perlu. Ada lebih banyak sihir yang dilibatkan dalam cerita ini dan sihir tersebut mempengaruhi lingkungan yang ada. ‘Apakah saya membutuhkan hal ini untuk menceritakan kisahnya?’ Ya, seperti itu lah.”

Bagi Andrews, menceritakan sebuah kisah yang memikat dan berbeda dalam versi animasi merupakan sesuatu yang penting. Meski ia diberi tugas untuk mengarahkan sebuah cerita yang spesial karena pemeran utamanya adalah seorang wanita, Andrews justru tidak berusaha untuk melihat ini sebagai titik sentralnya. Baginya, kisah ini dapat menampilkan seorang pangeran, dan tetap dapat menarik perhatian penontonnya.

“Ini seakan-akan seperti fakta bahwa ia adalah seorang wanita merupakan aspek dari cerita yang dapat kami manfaatkan untuk menciptakan sebuah kisah yang lebih kuat. Maksud saya, ini kan cerita tentang pendewasaan diri. Apakah kami bisa membuat ini dengan tokoh anak laki-laki dan menjadikannya seorang pangeran? Tentu saja. Apakah kalau begitu ceritanya akan sama memikatnya? Mungkin. Bisa saja. Tapi pada akhirnya, setelah Anda menyaksikan filmnya, Anda akan tersedot ke dalam petualangan ini dan Anda akan merasa peduli pada karakter ini. Dan Anda akan melihat sesuatu yang mungkin Anda kira sudah Anda lihat sebelumnya, atau Anda pikir telah Anda pahami di awal, dan ini akan membuat Anda melihatnya dengan cara yang lain,” kata Andrews menjelaskan.

Baginya, hal yang paling krusial saat ini adalah bagaimana ia dapat memberikan kontribusi yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Pixar dengan film-filmnya di masa lalu. “Maksud saya, Andrew [Stanton] telah melakukan pekerjaan hebat dengan mengambil film fiksi ilmiah dan membuatnya menjadi berbeda [dengan WALL-E]. Brad [Bird] juga telah melakukan pekerjaan hebat dengan mengambil film superhero, film superhero yang ringan, dan membuatnya menjadi berbeda [dengan The Incredibles],” katanya. Karena itulah, Andrews berharap bahwa kali ini, Brave dapat menyajikan sesuatu yang berbeda dengan sebuah kisah dengan dasar cerita dongeng. Apakah Brave akan dapat menjadi film animasi yang sama populernya dengan para pendahulunya dari Pixar? Kita lihat pembuktian Andrews di akhir bulan Juni ini.

Foto cover: pixar.wikia.com

Penulis: SHINTA SETIAWAN

 

Dunia Imajinasi Dr. Seuss dalam The Lorax

Tidak semua cerita anak-anak hanya mengisahkan tentang hal-hal yang sederhana. Beberapa buku bahkan mengangkat topik-topik serius seperti bahaya industrialisasi dan eksploitasi terhadap alam. Film animasi Dr. Seuss’ The Lorax (2012) yang akan dirilis sebulan lagi, dibuat berdasarkan buku cerita yang mengisahkan sebuah dunia di mana pohon sudah tidak lagi ada. Bagaimana rasanya hidup di dunia yang terbuat dari barang-barang artifisial?
Artikel yang telah dibaca