Lima Fakta Unik tentang Christopher Nolan

Christopher Nolan yang hari ini genap berusia 42 tahun adalah sosok sutradara yang memiliki pengaruh sangat kuat meski film layar lebar yang pernah disutradarainya bahkan belum berjumlah sepuluh. Meski banyak yang merasa kecewa dengan The Dark Knight Rises (2012), tak bisa dipungkiri bahwa secara keseluruhan, trilogi Batman dari Nolan memiliki kualitas yang sangat baik. Ingin tahu apa yang menjadikan Nolan berbeda dari kebanyakan sutradara lain di Hollywood? Simak lima faktanya.

PENEROKA - Christopher Nolan yang di tanggal 30 Juli 2012 ini genap berusia 42 tahun adalah sosok sutradara yang memiliki pengaruh sangat kuat meski film layar lebar yang pernah disutradarainya bahkan belum berjumlah sepuluh. Meski banyak yang merasa kecewa dengan The Dark Knight Rises (2012), tak bisa dipungkiri bahwa secara keseluruhan, trilogi Batman dari Nolan memiliki kualitas yang sangat baik. Antusiasme para penggemarnya yang tak sabar untuk menunggu proyek penyutradaraan Nolan yang berikutnya juga menandakan bahwa banyak yang optimis bahwa di tahun-tahun yang akan datang Nolan akan hadir dengan karya-karya yang memiliki kualitas tinggi. Sama seperti film-filmnya, Nolan merupakan sosok dengan karakter yang yang unik. Ingin tahu apa saja yang menjadikan Nolan berbeda dari kebanyakan sutradara lain di Hollywood? Berikut adalah lima fakta unik mengenai Christopher Nolan.

 

1. 3D

Ketika banyak studio berlomba-lomba untuk memproduksi film 3D dan sutradara-sutradara terkenal mulai merangkul penggunaan format ini untuk menampilkan film yang lebih hidup di layar, Nolan adalah salah satu tokoh yang terkenal akan keengganannya untuk membuat film tiga dimensi.

The Dark Knight Rises sendiri adalah salah satu dari sedikit film tentpole di tahun ini yang tidak ditampilkan dalam format 3D. Dari awal, Nolan memang sudah bersikeras pada Warner Bros. bahwa film Batman ketiganya ini akan memiliki gaya yang sama dengan dua film pendahulunya. Lagipula, baginya penggunaan sebutan 3D merupakan sesuatu yang salah kaprah.

“3D adalah sebutan yang salah kaprah. Film itu 3D. Inti dari fotografi adalah itu tiga dimensi. Stereoscopic imaging memberi perspektif individual pada tiap penonton. Ini cocok untuk video game dan teknologi imersif yang lain, tapi kalau Anda melihatnya dari sisi pengalaman dari penonton, stereoscopic sulit untuk dirangkul,” kata Nolan.

Secara teknologi, Nolan melihat 3D sebagai sesuatu yang menarik, tetapi karena 3D membuat gambar yang ada di layar menjadi lebih redup, ia memilih untuk tidak menggunakannya. Belum lagi, untuk urusan harga. “Saya belum pernah bertemu siapapun yang menyukai format ini [3D], dan ini merupakan sesuatu yang membuat saya gelisah apabila Anda menjual sesuatu yang tidak disukai oleh orang-orang dengan harga yang lebih tinggi,” tambahnya.

 

2. Kisah Nonlinear dan Flashback

Mereka yang sudah biasa menonton film-film Nolan pasti sudah terbiasa dengan gaya berceritanya yang tidak linear. Walaupun Nolan kadang juga masih menceritakan kisahnya secara linear, ia pun masih menggunakan banyak flashback. Selain mendapatkan inspirasi dari berbagai novel detektif, Nolan juga mendapatkan inspirasi untuk bercerita dengan cara seperti ini dari berbagai film dan serial televisi.

“Ketika saya masih berusia 16 tahun saya membaca novel Graham Swift, Waterland, yang menampilkan banyak hal hebat dengan garis waktu yang paralel, dan menceritakan kisahnya dalam dimensi yang berbeda-beda namun tetap koheren. Di masa yang kurang lebih sama, saya ingat menonton The Wall dari Alan Parker di televisi, yang juga menghadirkan hal yang sama hanya dengan gambar, menggunakan ingatan dan mimpi yang menyeberang ke mimpi lain dan seterusnya. The Man Who Fell to Earth dan Performance dari Nicolas Roeg juga sangat berpengaruh. Film-film tersebut menempel di kepala saya, seperti banyak kisah fiksi kriminal dari James Ellroy, Jim Thompson, dan film noir seperti Out of the Past dari Jacques Tourneur yang juga luar biasa,” katanya.

 

3. Film dan IMAX

Bagi yang memperhatikan, di akhir credit The Dark Knight Rises, Nolan menyisipkan tulisan yang isinya adalah, “This motion picture was shot and finished on film,” sebuah pernyataan tegas yang terasa sangat kuat di tengah perdebatan mengenai masa depan film dan digital yang sedang hangat diperbincangkan.

Nolan memang merupakan pendukung setia dari medium film dan tidak berniat untuk pindah ke digital dalam waktu dekat. Dalam dekade terakhir, Nolan mengakui bahwa desakan untuk berhenti shooting dengan film dan mulai beralih ke digital sangat kuat, tapi ia tidak tertarik untuk mencobanya.

“Lebih murah untuk bekerja menggunakan film dan gambarnya jauh lebih bagus, ini adalah teknologi yang telah dikenal dan dipahami selama beberapa ratus tahun, dan ia juga sangat dapat diandalkan. Saya pikir, sejujurnya, ini bermuara dari kepentingan ekonomi dari produsen dan industri yang menghasilkan lebih banyak uang bila mereka melakukan sesuatu yang baru, ketimbang bertahan dengan apa yang ada. Kami menghemat banyak uang dengan shooting dengan film dan memproyeksikannya dengan film dan tidak melakukan digital intermediates,” kata Nolan.

Kegigihan Nolan untuk menampilkan filmnya dalam format IMAX juga disebabkan karena ia percaya bahwa IMAX merupakan format terbaik yang dapat digunakannya untuk membersembahkan karyanya pada penonton. “Saya pikir IMAX adalah format film terbaik yang pernah diciptakan. Ini adalah standar tertinggi dan ini adalah sesuatu yang format lain coba untuk lampaui, tapi menurut saya belum ada yang sanggup melakukannya,” katanya.

 

4. Telepon Seluler dan E-Mail

Jangan harap Anda bisa mengkontak Christopher Nolan melalui ponsel ataupun surat elektronik, karena ia memang tidak memiliki keduanya. Nolan mengakui bahwa ia lebih senang bicara secara langsung. Meski pernah memiliki alamat e-mail sebelumnya, belakangan Nolan meminta agar Warner Bros. menutup akun tersebut. Penyebabnya karena banyak yang mengirim surat elektronik ke alamat tersebut, termasuk orang-orang penting. Namun, karena ia jarang mengecek inbox-nya, Nolan tak ingin ini berubah menjadi salah paham dan membuatnya disebut tak perhatian.

Untuk telepon seluler sendiri, Nolan tak pusing, karena ia selalu dapat dihubungi karena orang-orang di sekitarnya banyak yang memiliki telepon genggam. Ia juga tidak masalah kalau ada yang melihat pilihannya sebagai sesuatu yang aneh.

“Ini bukan berarti bahwa saya adalah seorang yang takut dan tak suka pada teknologi,” katanya. “Saya hanya tidak tertarik saja. Ketika saya pindah ke L.A. di tahun 1997, tidak ada yang punya telepon seluler dan saya tidak pernah tertarik untuk memilikinya. Saya memiliki posisi yang unik karena ketika saya bekerja, saya tidak pernah berada jauh dari seseorang yang punya telepon. Barang-barang yang digunakan orang-orang untuk menyenangkan diri mereka sebenarnya hanyalah mainan untuk orang dewasa, dan barang-barang ini menggerogoti waktu Anda dan menghilangkan konsentrasi Anda.”

 

5. Kemeja dan Jas

Salah satu hal yang juga sangat identik dengan Nolan adalah pilihannya untuk bekerja dengan menggunakan kemeja dan jas. Bekerja sebagai sutradara berarti bahwa Nolan tidak punya dress code yang harus dipatuhi. Tapi, saat banyak sutradara lain lebih senang tampil kasual, Nolan justru selalu tampil perlente di tempat kerja.

“Saya sekolah di asrama dimana kami harus mengenakan seragam, dan saya sudah terbiasa untuk menggunakan semua kantong di jaket saya. Ini hanya karena saya nyaman menggunakannya. Saya tidak suka memikirkan tentang apa yang akan saya kenakan, jadi saya cukup mengenakan baju yang sama saja setiap hari,” katanya tertawa. Selain itu, Nolan juga jarang diperbolehkan untuk melakukan kegiatan berat di set oleh para krunya, sehingga bajunya tak pernah harus kotor. “Jadi saya berpakaian seperti kalau saya akan ke kantor saya. Lebih mudah seperti ini.”

Foto cover: experiencefilm.com

Penulis: SHINTA SETIWAN

 

Sepuluh Angka dan Data di Film The Dark Knight Rises

Sebelum menonton The Dark Knight Rises (2012), ada baiknya Anda mengetahui sedikit angka dan data yang ada di belakang pembuatan film ini. Selain menggambarkan betapa rumitnya pembuatan film terakhir dalam trilogi Batman karya Christopher Nolan ini, kita juga dapat memperoleh sedikit gambaran tentang skala dari film yang sangat epik ini. Ingin tahu lebih banyak tentang data-data di balik film terbesar di musim panas tahun 2012 ini? Berikut adalah sepuluh hal tentang angka dan data di film The Dark Knight Rises.